Street art, Mural dan Cara Membuatnya

Street art, adalah seni visual yang diekspresikan di tempat-tempat publik, contohnya di jalanan (ini juga alasan mengapa seni ini disebut ‘street’ art). Dimana seni adalah ekspresi, tembok adalah kanvas, dan jalanan adalah galeri. Kira-kira seperti itulah paham yang dianut oleh para pelaku street art. Banyak yang beranggapan bahwa seni harusnya dibawa pada tingkat eksklusif terlebih dahulu untuk bisa dinikmati. Namun pertunjukkan seni bagi para pecinta seni jalanan tidaklah harus selalu eksklusif, bahkan pada saat berjalan-jalan menyusuri jalanan kota pun mereka mengaku seharusnya dapat menikmati sebuah eksistensi kesenian. contohnya lukisan-lukisan 3 dimensi yang jika dilihat dari sudut pandang yang pas benar-benar indah dan tampak hidup.

 

Perkembangan street art di indonesia dapat kita ikuti melalui Indonesian Street Art Database (ISAD). ISAD merupakan hasil Inisiatif kerja kolaborasi jejaring street artists yang bergiat dalam upaya pendokumentasian, dan penelitian street art di Indonesia . ISAD secara sinergi dikelola dari berbagai kota di Indonesia. Saat ini ISAD sudah meliputi 14 kota termasuk di singapura.Wabah street art masuk di Indonesia dengan berbagai macam bentuknya mulai dari graffiti maupun mural (meskipun dua bentuk ini memiliki perbedaan yang mendasar).

Street art identik dengan seni underground. Street art yang lahir pada tahun 1980-an di kota New York lebih tepat ditujukan pada graffiti atau bentuk seni rupa jalanan lain seperti stencil, sticker, poster dan lain-lain. Sedangkan mural dalam beberapa referensi perkembangan street art tidak memasukkannya dalam kategori tersebut.
Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya (Wikipedia). Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.
Sifat mural yang penuh ketelitian dalam pengerjaan sehingga memunculkan kesan sempurna tentu berbeda dengan graffiti maupun bentuk street art lain yang sifatnya cepat digoreskan pada tembok. Karena itulah muncul kesan, bahwa graffiti maupun stencil menghasilkan wajah buruk bagi kota yang tengah membangun image bersih, rapi dan tampak tertata, sehingga tidak heran dalam setiap aksinya kelompok graffiti biasanya harus berurusan dengan Satpol Pamong Praja.

 

Dalam politik kota yang semrawut, mural berbicara untuk melukis dinding kota yang tidak terawat, kotor nan sangat kumuh dengan sentuhan estetika (seni). Hal ini menunjukkan kegelisahan para perupa kontemporer untuk mencari kaitan antara wacana seni rupa dan kehidupan kota sebagai representasi keseharian. Kota sudah memasuki fase pelupa. Pada saat yang sama kota telah berubah menjadi rimba tanda-tanda yang mengubur sejarah kotanya sendiri dan kota tidak lagi sarat dengan kenangan lama yang menjadi saksi berkembangnya kota dari hari ke hari. Hal inilah yang menjadi dasar alasan yang kuat mengapa mural dilakukan dan mengapa pula mural sebaiknya tidak dipakai sebagai alat promosi sebuah produk.


karya karya  grafitty pak nur yang sangat berbicara permasahan social politik di indonesiaDi Jogjakarta, Jogja Mural Forum (JMF)merupakan komunitas yang terdiri dari para pemerhati, seniman, para anak muda maupun warga yang tertarik dengan seni mural.Visi dari JMF adalah menjadikan seni mural sebagai sarana pendidikan seni kepada publik kota. Sarana pendidikan ini tidak hanya terbatas pada teknik seni visual, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana warga kota bisa menggali permasalahan di sekitarnya dan mengemasnya menjadi sebuah pesan-pesan visual yang artistik. Adapun prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi komunitas JMF adalah memposisikan seni ruang publik sebagai sarana bagi warga masyarakat mengekspresikan gagasannya. Inilah titik dimana setiap warga dapat menemui dirinya sendiri di belantara kotanya. Mural dalam perkembangannyadi Jogjakarta tidak lagi dibuat oleh seniman namun justru oleh masyarakat sendiri. Mereka mengerjakan mural itu di pinggir-pinggir jalan lingkup RT maupun jalan masuk gang. Terkesan mural di Jogja bahkan seperti gerakan massal yang memaksa pihak biro iklan harus memutar otaknya lagi untuk memasang poster iklan, karena ternyata ruang publik itu sudah kembali ke masyarakat sendiri. Menurut data dari Samuel Indratma, penggagas mural di Jogja sekaligus seniman dari Apotik Komik, telah lebih dari 500 karya mural dihasilkan oleh masyarakat Jogja. Sebuah usaha yang bisa dipakai sebagai salah satu trik menjauhkan masyarakat dari penyakit sosial, selain juga sebagai usaha yang bagus untuk mengajak berbagai lapisan masyarakat mulai dari yang muda hingga yang tua dalam menciptakan kondisi kota yang tidak saja bersih namun juga indah.


foto: http://rsamanyaphoto.files.wordpress.com

Baiklah sobat serufo,kali ini serufo akan berbagi tips bagaimanakah langkah-langkah membuat mural.

Menentukan Tema

Pada prinsipnya, sebuah gambar memungkinkan adanya sebuah komunikasi antara seseorang dan gambar yang sedang dilihatnya. Gambar membawa sebuah pesan yang akan langsung dicerna pada saat itu juga.  Tema itu penting, karena akan memberikan suasana tersendiri dalam ruangan. Setiap orang memilki gaya tersendiri dalam menentukan tema. Beberapa seniman memilih tema-tema tang tidak hanya berisi gambar-gambar atau coretan-coretan yang menghibur saja, melainkan juga berupa gambar atau tulisan yang meyuarakan seruan, saran, bahkan sindiran oleh si pembuat karya terhadap masalah yang sedang berkembang ataupun kebijjakan pemerintah.
 

Membuat Desain

Ada baiknya membuat desain/ sketsa terlebih dahulu sebelum sobat serufo mengeksekusinya pada media yang sebenarnya. Gambar harus diprediksi sesuai dengan luasan dinding yang akan dipermak. Demikian juga pemilihan warna yang tepat akan menimbulkan kesan yang tepat pula.
Menyiapkan peralatan
 

Sebelum membeli peralatan, lihat keadaan dinding dan sketsa gambar. Dinding yang masih baik tidak memerlukan sentuhan khusus. Susahnya kalau dinding berjamur, retak, cat mengelupas dll, maka diatasi dulu sebelum mulai menggambar di dinding. Kalau tidak, dijamin hasilnya kurang baik.

Perhatikan baik-baik kombinasi warna dalam sketsa gambar. Apa warna dominannya? Berapa macam warna lain yang porsinya kecil? Ini penting untuk menghemat pembelian cat. Sobat serufo bisa bereksperimen menghasilkan banyak warna dari kombinasi warna primer (merah, kuning, biru). Tentukan pula jenis kuas yang sesuai. Bisa juga menggunakan alat lain seperti spon, sikat dsb.
Siapkan barang-barang berikut:

 

  • Beberapa kaleng cat warna pokok ( merah, kuning, biru, hitam, putih)
  • Tinner (pengencer bila memilih menggunakan cat minyak).
  • Kuas ukuran kecil, sedang, dan besar (kuas Buesar juga bisa untuk background, biar cepet pngerjaannya)
  • Masking tape, ada yang bilang selotip kertas dan kertas koran bekas. Berguna supaya hasil cat kamu lebih rapi alias tidak berceceran ke tempat yang tak diinginkan.
  • Beberapa wadah untuk mencampur cat.

Siap Melukis

  • Bersihkan dinding dari kotoran/minyak dengan cara dikerok, dilap atau dicuci. Cat yang kurang rata diamplas lalu bersihkan dengan lap basah. tunggu sampai kering sempurna.
  • Pasangkan masking tape di batas media yang hendak dicat.
  • Buka kaleng cat, dan siapkan cat dalam wadah sesuai porsinya lalu tambahkan tinner secukupnya.
  • Menggambar objek utama atau yang paling menonjol dalam sketsa kamu. Setelah itu gambar tipis seluruh sketsa di dinding.
  • Warnai semua objek. Usahakan warna penuh.
  • Revisi lukisan kamu lalu perbaiki objek yang kurang seimbang maupun paduan warnanya.
  • Tunggu agak kering semua lukisan, ditandai cat sudah tidak menetes. Lalu lepaskan masking tape supaya rembesan cat di selotip tidak terserap ke media lain.
  • Biarkan kering sempurna, usahakan tidak ada tangan jahil yang pegang-pegang
tak perlu terburu2 dalam pengerjaannya, sempurnakan sesempurna mungkin agar tak ada mata yg jemu melihat karya sobat. Sobat serufo bisa mengajak beberapa teman untuk mengerjakannya dalam tim sehingga lebih cepat selesai.

referensi :

  • IIndonesian Street Art Database (ISAD)
  • “Street Art Menyapa Kota” oleh : Obed Bima Wicandra, Aktivis “Tiadaruang Art Community” dan dosen Desain Komunikasi Visual UK Petra Surabaya
  • http://reddamuralart.wordpress.com
  • berbagai sumber

Your email address will not be published. Required fields are marked *